SAMARINDA KOTA. Kaltim sebagai Calon Ibu Kota Negara (IKN) sudah tentu harus bisa memenuhi kebutuhan masyarakatnya. Baik terkait sandang hingga pangan.
Bahkan, kebutuhan akan makanan seperti daging sapi dan ayam juga harus bisa terpenuhi. Jika perlu, hal ini harus swasembada artinya Kaltim bisa mandiri dan tidak lagi tergantung oleh daerah lain.
Gubernur Kaltim, Isran Noor pun mengaku, Kaltim saat ini masih belum bisa swasembada daging sapi. Kebanyakan, daging yang ada bahkan Sapi masih diimpor dari luar daerah. Seperti Sulawesi dan Bali.
“Kalau ayam potong sudah swasembada. Sudah di atas, cuma memang Sapi masih kurang, sekitar 50 ribu ekor kita tiap tahun kurangnya,” ucapnya.
Menjawab hal tersebut, Pertamina MOR VI Balikpapan pun mengajak perusahaan berkolaborasi dengan program CSR sebesar Rp 20 miliar yang diberikan. Untuk program penggemukan sapi di sejumlah daerah di Kaltim.
Dimana, Pertamina menyerahkan secara simbolis bantuan sebesar Rp 20,6 miliar kepada 14 kelompok peternak sapi (206 anggota) yang tersebar di Kutai Kartanegara, Kutai Barat, Kutai Timur, Samarinda, Paser, dan Balikpapan dimana kelompok tersebut merupakan mitra dari Koperasi Berkah Salama Jaya (BSJ).
Isran pun memberikan apresiasinya kepada Pertamina atas dedikasinya membantu para peternak sapi yang ada di Kaltim. Dana yang disalurkan ini pastinya akan sangat bermanfaat bagi mereka, apalagi menyambung hidup di tengah pandemi covid-19.
“Jelas dengan adanya pinjaman modal usaha, banyak hal positif yang terjadi yaitu roda ekonomi bergerak dan meningkat, peternak juga bisa survive. Semoga bantuan dari Pertamina ini bermanfaat dan dapat berlanjut ke depannya,” ungkapnya.
Plt Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kaltim Sulastri saat ditemui di lokasi seremoni menginformasikan bahwa program kemitraan dari BUMN seperti Pertamina sangat meringankan para peternak sebagai sumber pembiayaan untuk menggerakkan usaha dari para peternak.
“Dengan adanya kebutuhan akan daging sapi yang masih defisit sekitar 260 ribu ton dan masih perlunya impor sapi 1.2 juta ekor secara nasional, perlu adanya inovasi untuk meningkatkan produktivitas sapi lokal salah satunya dengan upaya penggemukan sapi. Apresiasi tinggi Pertamina telah mendukung penuh dengan memberikan pinjaman modal usaha kepada para peternak,” ujar Sulastri.
Sementara itu, Executive General Manager Regional Kalimantan Freddy Anwar, pada saat sambutannya menjelaskan bahwa Pertamina selain mempunyai tugas utama dalam menyediakan dan menyalurkan energi, Pertamina juga memperhatikan masyarakat sekitar dengan mewujudkan Program Kemitraan yang merupakan salah satu bagian dari program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL).
TJSL mencakup Program CSR dan Bina Lingkungan, baik bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan dan pemberdayaan masyarakat hingga Program Kemitraan sendiri yang fokus kepada pengembangan UMKM agar menjadi usaha yang tangguh dan mandiri. Di Kalimantan sendiri program kemitraan telah berjalan dari tahun 1993 hingga sekarang.
“Kami melihat adanya potensi di mana kebutuhan masyarakat akan daging sapi cukup tinggi di wilayah Kalimantan Timur sekaligus sejalan dengan tujuan pemerintah untuk ketahanan pangan. Membaca potensi tersebut, Pertamina bermaksud untuk dapat menggerakan ekonomi rakyat dengan memberikan kucuran pinjaman modal usaha sekitar 100 juta satu peternak dengan jasa administrasi 3% setahun.” Jelas Freddy.
Program yang telah direalisasikan dari akhir Desember 2020 kemarin memiliki mekanisme yang sifatnya Yarnen (Bayar Panen) sehingga para peternak sapi tidak dibebankan pembayaran per bulan seperti usaha-usaha dagang ataupun jasa lainnya.
Mekanisme penggemukan sapi yang dilakukan oleh BSJ berbeda dengan konsep biasanya, di mana tiga bulan peternak sapi sudah dapat melakukan panen dengan didampingi secara intensif agar sapi dapat terplihara dan setiap bulannya menunjukkan peningkatan berat daging yang maksimal.
Tidak hanya dari sisi peminjaman modal melalui program kemitraan, Pertamina bersama Universitas Mulawarman melakukan pemanfaatan kotoran sapi menjadi biogas dan listrik untuk digunakan oleh warga desa Tani Bhakti.
Konsep biogas ini dengan sistem komunal terpusat di satu kandang besar yang nantinya akan diolah dan dialirkan gas nya melalui pipa-pipa ke rumah-rumah warga yang prioritas mendapatkan biogas.
Lebih lanjut Freddy menambahkan bahwa Pertamina sangat mendukung adanya sumber energi baru dan terbarukan agar dapat terus menjaga lingkungan dan sebagai bentuk aksi dari meminimalkan perubahan iklim.
“Pertamina juga telah membantu beberapa fasilitas baik untuk penggemukan sapi dan pengolahan biogas antara lain kandang, mobil angkut operasional, mesin pemotong rumput, gerobak dorong dan fasilitas lainnya. Dibantu dengan civitas akademika Universitas Mulawarman, pengolahan biogas ini juga dimonitor dan terus dievaluasi,” pungkasnya. (mrf/beb)









Komentar