oleh

Korban Bom Gereja Oikumene Tak Pernah Dapatkan Bea Siswa

SAMARINDA — Cerita pilu penyintas bom Gereja Oikumene, Kecamatan Sengkotek, Samarinda, terungkap saat pertemuan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komisaris Jenderal Polisi DR Boy Rafli Amar, Sabtu petang di Samarinda, (18/9/2021).

Dalam acara Pelibatan Masyarakat “Kolaborasi Penyintas” dalam pencegahan terorisme melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kaltim, selain menghadirkan keluarga dan penyintas Gereja Oikumene, juga ada satu keluarga kasus penyerangan Pos Brimob di Desa  Loki Ambon pada tahun 2005 silam. Saat itu terdapat 6 orang anggota Brimob Polda Kaltim yang gugur dalam tugas tersebut.

Boy turut memberikan semangat kepada para keluarga penyintas terorisme ini, baik yang kehilangan anggota keluarga maupun anggota keluarga yang saat ini menjadi penyintas atas peristiwa tersebut.

Novita Sinaga, perwakilan keluarga penyintas bom Oikumene menyampaikan kepada Boy, jika hingga hari ini, anak-anak mereka tidak pernah menerima bea siswa, seperti yang pernah dijanjikan. Sehingga, untuk  biaya pendidikan hanya dibiayai dari pendapatan keluarga masing-masing.

Baca Juga  Prostitusi Online di Balikpapan, Dua Muncikari Dibekuk

“Kami akan memperjuangkan karena ada beberapa Kementerian dan lembaga yang menyediakan bea siswa. Ini adalah bea siswa khusus yang merupakan korban dari kejahatan terorisme. Kami akan semaksimal mungkin memenuhi keinginan para orang tua penyintas,” janji Boy.

Menurutnya, selama ada BNPT itulah beberapa tugas yang diantaranya memberikan bantuan, seperti bea siswa untuk pendidikan anak-anak penyintas ini.

Disela-sela perbincangan Boy Rafli Amar dengan ibunda Novita Sinaga, Jenderal polisi ini memanggil ketiga bocah tersebut dan mengajaknya untuk berbincang sesaat. Ketiga bocah yang hadir tersebut yaitu  Alvaro Sinaga (9 th), Trinity Hutahaean (8 th) dan Anita Kristobel (7 th).

Baca Juga  Dirundung Masalah Anggaran, KONI Se-Kaltim Tiadakan Pra Porprov

Boy Rafli Amar berjanji akan memperjuangkan apa yang belum pernah didapatkan oleh para penyintas ini. Menurutnya, dengan pertemuan seperti ini dirinya baru mengetahui kondisi terkini para korban.

Novita Sagala yang mewakili keluarga para penyintas bom Gereja Oikumene tahun 2016 silam menceritakan, jika anaknya  luka berat di tengkorak kepala belakang dan tangan kanan, telah menjalani beberapa kali operasi penyembuhan.

“Operasi lanjutan di rumah sakit di Kuala Lumpur karena RS AWS (Abdul wahab Syahranie) sudah melakukan beberapa operasi awal.  Biayanya selain dari pemerintah juga dari donasi masyarakat. Saat ini, anak saya seharusnya menjalani operasi kembali di Kuala Lumpur. Namun belum ada biaya dan masih pandemi,” ujar Novita terisak.

Baca Juga  Kunjungi Samarinda, Presiden Joko Widodo Tinjau Vaksinasi Pelajar

Ia mengkhawatirkan masa depan anaknya kelak karena hingga saat ini janji Pemprov Kaltim untuk memberikan bantuan bea siswa bagi anak-anak  ini, belum terealisasi. Ironisnya, ia mendengar banyak berita jika banyak anak pelaku terorisme, kerap mendapat perhatian dari pemerintah, dengan dalih  rehabilitasi.

“Kami sangat berterima kasih kepada pemerintah yang telah banyak membantu saat operasi dan penyembuhan anak-anak kami. Namun, banyak juga janji yang tidak pernah kami terima. Seperti janji membiayai pendidikan mereka. Sedangkan warga di sekitar kami mengira biaya pendidikan anak-anak ditanggung oleh  negara,” ujarnya sedih.

Diakhir acara, keluarga penyintas bom Gereja Oikumene maupun keluarga penyerangan teroris di Desa Loki,  Ambon mendapatkan sejumlah bantuan tali asih dan kebutuhan sembako untuk keperluan sehari-hari dari BNPT RI. (*)

Komentar

News Feed