SUNGAI PINANG DALAM. Longsor yang terjadi di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Muslim di Jalan Damanhuri RT 61, Kelurahan Sungai Pinang Dalam, Kecamatan Sungai Pinang, Jumat (15/1) lalu, mengakibatkan puluhan makam rusak. Peristiwa ini ternyata bukanlah kali pertama terjadi. Sebelumnya kuburan ini mengalami hal sama di tahun 2017 lalu.
Pengerus makam, Sarkawi menjelaskan pada Juni 2017, sebanyak 15 makam kondisinya juga rusak parah. Bahkan ada beberapa makam yang tidak memiliki nisan akibat tertimbun material tanah. Saat itu sebagian makam sudah bergeser antara 1 meter hingga 10 meter dari tempatnya semula.
“Saat kejadian pertama itu hujan deras juga mengguyur. Upaya pembuatan parit di sekitar makam yang kami lakukan beberapa hari sebelumnya, tidak mampu menampung air hingga longsor terjadi,” kata Sarkawi, Senin (18/1).
Rupanya tiga tahun berlalu, kejadian serupa terulang kembali. Cuaca ekstrem yang terajdi selama sepakan ini, membuat tanah di area pemakaman kembali labil. Akibatnya, sebanyak 70 makam rusak berat. Sementara ratusan makam lainnya ikut terancam.
Atas kejadian ini, Sarkawi langsung melaporkan ke tingkat lurah hingga kecamatan. Ia khawatir jika dibiarkan begitu saja, longsor susulan bisa terjadi. Terlebih jika hujan kembali datang dan membasahi area pemakaman yang berada di atas bukit itu.
“Longsor pertama kami sudah lapor, tapi tidak ada tanggapan. Akhirnya kami, pengurus makam, dan warga yang memperbaiki. Nah sekarang longsor kedua bagaimana? Apa dibiarkan juga,” keluah Sarkawi.
Lurah Sungai Pinang Dalam, Hadriansyah datang ke kuburan untuk melihat langsung lokasi longsor. Dia datang ditemani Ketua RT 09, Karnadi, Bhabinkamtibmas Sunagi Pinang Dalam, Aipda Subaji. Hardi mengakui jika longsor yang dialami di TPU Damanhuri memang cukup parah.
Dari pantauannya, terdapat tiga titik longsor dimakam seluas 1,5 hektare tersebut. Rata-rata 70 makam mengalami kerusakan di bagian nisan dan telah bergeser atara 1 meter hingga 3 meter dari tempatnya semula.
“Yang rusak di bagian atas makam atau batur. Tidak ada makam yang keluar. Namun demikian harus segera ditangani sebab tanah masih labil,” kata Hadriansyah.
Pihaknya, lanjut Hadriansyah, akan segeta berkooridnasin dengan pihak kecamatan dan BPBD Kota Samarinda termasuk Dinas PUPR. Berharap ada upaya pencegaran dan perbaikan makam.
“Harus ditangani bersama-sama. Sebab kasihan ahli waris makam yang melihat kondisi makam sanak saudaranya di sini,” ujar Hadriansyah.
Camat Sungai Pinang, Siti Hasanah menyebutkan bencana tersebut faktor dari cuaca yang ekstrem dengan ditunjang tekstur tanah yang labil.
“Kondisi cuaca menjadi salah satu penyebabnya. Ditambah tekstur tanah gembur yang sifatnya labil,” kata Siti.
Sehingga upaya yang pihaknya lakukan yaitu dengan membuat sebuah saluran air guna meminimalisir terjadinya longsor. Ia juga mengakui peristiwa serupa juga sudah terjadi dua kali pada pemakaman tersebut, pada 2017 lalu dan awal 2021 ini.
“Kami berikan solusi dengan membuat saluran air biar tidak meresap ke tanah,” pungkasnya. (kis/nha)











Komentar