BUKIT PINANG. Meski malam itu cuaca terlihat kurang bersahabat, Melia Azedarah Bora, tetap memacu laju motornya ke persimpangan Jalan Pangeran Suryanata – Jalan HM Ardans (Ring Road III), Kelurahan Bukit Pinang, Kecamatan Samarinda Ulu, Jumat (18/12) lalu pukul 21.00 Wita.
Mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Samarinda itu, tergesa-gesa karena hendak menemui seorang calon pembeli printer merek Epson miliknya yang dijual seharga Rp 1,8 juta.
Sesampainya di tempat yang telah ditentukan, gadis 19 tahun itupun langsung bertemu dengan calon pembeli yang mana merupakan seorang pria berprawakan kecil dan mengenakan masker.
Melia pun langsung menyerahkan printer miliknya untuk dicek kondisinya oleh pria itu. Tak sampai 10 menit, pria itupun menyerahkan amplop putih berisi uang sebagai tanda jadi dibelinya printer itu.
Tanpa mengecek terlebih dahulu isi amplop itu, Melia langsung saja tancap gas menuju pulang. Tapi saat berhenti di lampu merah dia pun baru mengecek isi amplop yang diterimanya itu.
“Saya buru-buru karena saat transaksi cuaca sudah gerimis, jadi saya tidak sempat cek lagi isi amplopnya,” kata Melia, yang datang mengadu ke Pos FKPM Pelita, Sabtu malam (19/12) lalu.
Melia terkejut. Pasalnya beberapa lembar uang pecahan Rp 50 ribu di dalam amplop itu tak seperti biasannya. Teksturnya licin. Warnanya terang. Terkesan luntur.
“Saya langsung balik ke lokasi COD (bertemu, Red), tapi orang itu sudah tidak ada,” ucap Melia.
Melia adalah korban ketiga peredaran uang palsu (upal). Sebelumnya ada 2 warga yang lebih dulu mengadu ke pos FKPM Pelita, bahwa mereka telah ditipu pembeli yang membeli menggunakan upal.
“Ya, untuk Melia itu adalah korban ketiga. Sebelumnya ada penjual kue yang tertipu upal pecahan Rp 20 ribu, dan penjual ponsel yang tertipu upal yang dibuat pelakunya dengan cara digambar,” ujar Ketua FKPM Pelita, Marno Mukti.
Ketiga korban itu, masing-masing telah diberi arahan untuk mengadukannya secara resmi di Polsek-Polsek wilayah terjadinya tindakan penipuan itu.
“Jadi untuk dua kasus (menjual ponsel dan printer) menurut kami terjadi karena keteledoran korbannya sendiri, dimana kurang memperhatikan situasi disaat melakukan transaksi dan juga tidak langsung mengecek uang yang diserahkan,” uangkap Marno.
Berkaitan dengan maraknya peredaran upal. Tentunya Marno mengimbau agar masyatakat lebih jeli dan berhati-hati ketika bertransaksi. Terutama pada orang yang tidak dikenal.
“Upayakan tidak bertransaksi malam hari, lakukan langsung di rumah, biasakan mengecek kondisi barang dan uang,” pungkasnya. (oke/nha)











Komentar