Pandemi Covid-19 di Kaltim dinilai berdampak besar terhadap kelanjutan pembangunan daerah, terutama dalam penyerapan anggaran. Gubernur Kaltim, Isran Noor menyebutkan, pandemi masih terjadi di Kaltim, bahkan belum ada tanda-tanda penurunan.
“Betul, sangat berpengaruh terhadap pembangunan daerah. Bahkan, penyerapan anggaran pun menurun dari tahun lalu. Ini semua akibat dari Pandemi Covid-19,” kata Isran pada awak media, Senin (16/11) kemarin. Isran menjelaskan akibat dari pandemi, alokasi anggaran dari pusat pun mengalami penurunan. Bahkan, APBD juga dirasionalisasi dengan tujuan membantu pemerintah pusat untuk penanganan Covid-19.
Masalah ini bukan hanya Kaltim saja yang menerima, tetapi semua provinsi di Indonesia. “Kita berdoa semoga wabah ini segera berakhir. Perekonomian masyarakat pun kembali membaik, termasuk alokasi anggaran Kaltim kembali normal,” jelasnya.
Sementara itu, perekonomian Kaltim mulai menunjukkan perbaikan walau tercatat masih mengalami kontraksi. Pertumbuhan ekonomi Kaltim pada Triwulan l 2020 tumbuh sebesar 2,39 persen (qtq), setelah mengalami kontraksi sebesar 6.53 persen (qtq) pada triwulan sebelumnya.
Secara tahunan, perbaikan ekonomi domestik juga terlihat dari berkurangnya kontraksi pertumbuhan menjadi 4,61 persen (yoy) dari kontraksi pada Triwulan lI 2020 sebesar 5,46 persen (yoy). Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah daerah dan otoritas terkait lainnya agar lebih efektif dalam mendorong pemulihan ekonomi di Kaltim.
Berdasarkan LU, perbaikan pertumbuhan ekonomi Kaltim triwulan ll 2020 bersumber dari kinerja LU Utama Kaltim yakni Industri Pengolahan serta Pertambangan. “Perbaikan pada industri pengolahan salah satunya didorong kembali berproduksinya kilang minyak Balikpapan yang sempat menghentikan produksi pada triwulan sebelumnya,” ucap Kepala Perwakilan BI Kaltim, Tutuk SH Cahyono, kepada awak media, Selasa (10/11) lalu.
Sedangkan, LU pertambangan batu bara masih mengalami kontraksi meskipun menunjukan perbaikan dari triwulan sebelumnya. Hal ini sejalan dengan curah hujan yang lebih lebat pada triwulan lll 2020 yang berakibat terganggunya produksi batu bara serta membaiknya permintaan ke negara tujuan selain Tiongkok.
“Dari sisi pengeluaran, membaiknya perekonomian juga ditunjukkan dengan adanya perbaikan Konsumsi Rumah Tangga (RT) dan ekspor meskipun masih terkontraksi,” ungkapnya. Perbaikan kinerja konsumsi rumah tangga utamanya disebabkan oleh dimulainya fase adaptasi kebiasaan baru serta kembali beroperasinya beberapa lapangan kerja yang mendorong kegiatan perekonomian masyarakat.
Sementara itu, membaiknya volume ekspor bersumber dari membaiknya ekspor batubara serta tingginya pertumbuhan ekspor CPO. Tingginya ekspor CPO diiringi oleh peningkatan harga yang cukup tinggi dari
7,66 persen (yoy) di triwulan sebelumnya menjadi 31,71 persen (yoy). Tingginya ekspor CPO tersebut terutama bersumber dari pengiriman ke Tiongkok yang mengalami pertumbuhan dari -33,42 persen (yoy) di triwulan sebelumnya menjadi 28,27 persen (yoy). Tingginya ekspor CPO ke Tiongkok sendiri berkontribusi sebesar 66 persen terhadap total ekspor CPO Kaltim.
Perekonomian triwulan IV 2020 diprakirakan akan kembali membaik, dengan catatan pandemi Covid-19 dapat dimitigasi risikonya dengan baik sehingga membuka peluang peningkatan mobilitas masyarakat dan kegiatan ekonomi daerah.
Perbaikan tersebut diprakirakan bersumber dari semakin membaiknya kinerja lapangan usaha utarna diringi oleh peningkatan konsumsi pemerintah yang melakukan percepatarn realisasi anggaran bantuan ekonomi dan kesehatan masyarakat. “Konsumsi RT diprakirakan juga tumbuh positif seiring dengan masuknya periode liburan di akhir tahun,” pungkasnya. (mrf/beb)











Komentar